Bernegosiasi dengan Borealis

Malam itu sekiranya hantu-hantu ingin mendekapku dari setiap penjuru arah, maka cukup menikamku dengan ramah hidupku pasti terbengkalai hingga 2019.

Dari awal hidupku sudah menderita sangat jauh dari aroma borealis, menginjak bumi pun kakiku terasa tengah dibius 14-15mg dosis “Propofol”.

Tahukah wahai dunia, aku bercerita hanya sekadar untuk bernegosiasi dengan dosa-dosaku. Menjalani hidup hanya untuk menyenangkan nafsuku, memarjinalkan akalku, memporak-porandakan sengat buasku.

Kitab? Ya, kitab itu tebalnya tidaklah seberapa. Maknanya yang dekat dengan arab asli dari Abraham dan Sunda jaman kerajaan Pasoendan yang tengah berkuasa. Artinya Sunda logatnya logat Arab, kuteguhkan nafasku untuk membuka dan mulai membacanya.

15 menit udara semakin dingin tubuhku gemetar. Dini hari, orang Indonesia biasa menyebut masanya. Aku pun terus membaca kitab itu dan tersadarlah yang kala itu usia ku menginjak 25 tahun, seperti dipukuli gendir, ditusuk oleh rajam dipergoki oleh TUHAN. Maaf TUHAN aku telah menyia-nyiakan 25 tahunku, telah menghabiskan 25 tahunku dengan berbagai macam permen anti biotik.

Maka,
Janganlah bernegosiasi dengan dosa
Janganlah berprasangka buruk terhadap hal-hal baik
Janganlah melipat bajumu hingga lupa cara memakainya
Janganlah membentak TUHANmu
Cukuplah Izrail yang menunggu hingga waktumu tiba meraih borealismu.

29 Agustus 2019