Cerdas Individu Cerdas Sosial

Dalam kehidupan sosial maupun beragama kita membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan  berkomunikasi, karena kita dituntut mempunyai relasi yang baik kepada sesama manusia dan juga kepada Tuhan. Sehebat apapun, setinggi apapun jabatan, sekaya apapun, sesuper apapun kita, jelas bahwa kita tidak bisa hidup tanpa interaksi dan bantuan orang lain. Mulai dari kita lahir di muka bumi ini, anak-anak, dewasa, remaja, tua bahkan sampai masuk ke liang lahatpun kita tetap membutuhkan pertolongan orang lain. Tetapi kenyataannya sering kali kita melihat kesombongan, ketamakan dan keangkuhan seseorang karena merasa dirinya mampu melakukan sesuatu dan tanpa menyadari ia juga membutuhkan orang lain.

Pendidikan dan agama lahir untuk menyelesaikan persoalan tersebut, di mana kita tidak hanya hidup secara individu melainkan berkelompok (sosial ). Dalam dunia pendidikan mulai dari Tk sampai pada bangku perkuliahan tidak ada teori ataupun penjelasan yang mengajarkan kita untuk cerdas sendiri, hidup sendiri, namun yang ada adalah hidup mandiri. Kehidupan yang mandiri dimaksudkan dalam wilayah tertentu kita dituntut untuk senantiasa mampu memecahkan masalah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa dalam hal tersebut kita melibatkan orang lain.

Kesadaran kritis harus terus ditumbuhkembangkan dalam alam sadar kita, agar pola berpikir tak seeloknya secara individualis namun juga secara sosialis. Tujuan kita belajar adalah menumbuhkan kesadaran kritis dalam diri kita sebagai insan berakal, dan itu harus didapatkan dalam dunia pendidikan (Paulo Friere) .

Salah satu bapak pendidikan barat yakni Paulo Friere mencetuskan beberapa narasinya terkait kesadaran atau fase yang menjadi ukuran kecerdasan seseorang, yakni;

Kesadaran magic, yaitu kesadaran yang langsung dari Tuhan. Keyakinan yang tumbuh bahwa alam semesta merupakan ciptaan Tuhan maka itulah yang dimaksudkan kesadaran magic.

Kesadaran naif, kesadaran yang tak berimplementasi atau tanpa tindakan, sebagai contoh kesadaran akan pentingnya berilmu namun ia tak pernah berusaha membaca atau mencari sumber ilmu.

Kesadaran kritis, yakni kesesuaian antara, berpikir, berkata dan bernyata atau bertindak. Inilah kesadaran yang sangat sulit didapatkan manusia, kecuali orang yang mampu menghikmati dunia dan seisinya, melalui beberapa atmosfer sosial yang berbeda dalam kehidupan sehingga kesadaran itu lahir, dan inilah puncak kesadaran manusia di atas manusia.

Nah tentunya setelah kita membaca dan mengetahui hal demikian, kita akan memposisikan diri pada kesadaran apa yang selama ini kita miliki, apakah pertama, kedua atau puncak tertinggi yakni kesadaran kritis.

Hal yang juga perlu kita lakukan adalah bahwa apa yang kita dapatkan hari ini harus kita luapkan kepada orang-orang di sekitar kita. Banyak yang cerdas, tetapi cerdas secara individual namun cacat pada kecerdasan sosial karena tak mampu merasakan kepekaan sosial yang ada di sekitarnya.

Termasuk persoalan ibadah, kita tak diperintahkan untuk sholeh secara individual namun juga secara sosial. Bahkan di dalam ajaran agama perintah sosialisme sangat banyak didapatkan.

Misi sosial kita sejatinya adalah menciptakan kebersamaan, bersusah bersama, kekompakan, kedermawanan, kepekaan terhadap sesama, persatuan, kesetiakawanan dan perhatian sesama. Maka termasuk dalam hal kecerdasan, kalau sekiranya kita masih dalam pengetahuan yang dihegemoni oleh ego sendiri maka tak lain kita hanya sebatas mengetahui (kikir). Tetapi jika pada substansinya kita mampu berbagi atau menularkan pengetahuan kita (kepekaan sosial ) maka kita termasuk manusia yang memanusiakan manusia.

Jadilah pewarna di setiap tempat, mewarnai yang tak berwarna, dan melebur bersama warna-warna lainnya.Jangan berhenti membaca di kolongkata.com.  Buka bukumu, jangan biarkan dia berdebu! Biar virus kecerdasan lahir dan terus tumbuh baik dalam diri maupun disekitar!