Pilihan Redaksi Edisi Keempat Agustus

Salam literasi.

Edisi kali ini terhitung sudah masuk edisi keempat tulisan favorit pilihan redaksi di bulan Agustus. Semakin hari redaksi semakin sulit menentukan tulisan paling favorit karena aroma dialektika dalam menulis semakin pekat. Seperti redaksi mencoba meraba bayang-bayang dari bias cahaya yang muncul dari pemikiran para penulis muda yang hadir.

Tentu saja kesulitan ini menjadi tantangan tersendiri bagi redaksi. Pada awalnya redaksi tertarik dengan tiga tulisan masing-masing dari Nurul Luthfia (Jeritan Tak Bersuara), Azka (Khotbah ala Dongeng) dan Pandji dg Nakku (Demonstran “Konstruksi Media”). Ketiganya menunjukkan keberanian dalam mengkritik sebuah tatanan yang dianggap sudah mapan. Nurul mengkritik aksi demonstrasi yang kini tak lagi menjadi wadah aspirasi melainkan wadah pelampiasan hawa nafsu. Kebejatan nafsu ini diangkat oleh Nurul melalui peristiwa terbakarnya beberapa orang polisi saat mengawal aksi demonstrasi di Cianjur. Nurul mengajak kita untuk melihat dari sudut pandang keluarga polisi yang sedang bertugas dan menjadi korban peristiwa tersebut, bahwa anak dan istri mereka juga berhak bahagia dan berhak atas senyum yang dibawa pulang oleh para petugas tersebut.

Selanjutnya ada Azka yang menyinggung soal khotbah dan jamaah. Azka menuturkan fenomena jamaah yang sering tertidur saat mendengar khotbah seolah mereka sedang dibacakan sebuah kisah/dongeng. Sementara khatib (pembaca khotbah) tak bisa berbuat apa-apa dalam menegur jamaahnya yang sedang pulas. Kritikan Azka mengarah pada metode khotbah yang menarik bagi sasaran dakwah dan juga kebiasaan jamaah yang tertidur untuk menjadikan khotbah ini sebagai kebutuhan.

Kemudian Pandji mengajak pembaca (masyarakat) untuk bijak menilai demonstrasi. Demonstrasi menurut Pandji adalah konsekwensi dari sistem demokrasi. Hal ini juga dijamin dalam UUD 1945 tentang kebebasan berpendapat dan berserikat. Adalah sebuah kewajaran apabila demonstrasi mengundang pro dan kontra, karena itulah dialektika gagasan yang diangkat dalam demonstrasi. Pandji mengkritik sudut pandang kebanyakan “orang awam” yang terlalu instan dalam menjustifikasi proses demonstrasi terutama demonstrasi yang berujung bentrok tanpa mempertimbangkan isu yang diperjuangkan dan terutama mereka yang menelan mentah-mentah “konstruksi media” tentang demonstrasi yang menjadi realitas semu.

Pada akhirnya redaksi menjatuhkan pilihan pada tulisan Pandji dg Nakku (Demonstran “Konstruksi Media”). Kemudian dua tulisan terakhir, redaksi memilih tulisan Nurwahidin (Sebuah Kata) yang mengangkat tentang sebuah kata berbentuk ikrar, janji atau sumpah yang memiliki sebuah nilai dan ikatan yang tak pernah berubah dari waktu ke waktu. Dan terakhir ada tulisan Hajar Aswad  (Redupnya Jiwa RAKUS dalam Pendidikan) yang mengkritik perkembangan teknologi modern yang berdampak pada pola pikir pelajar dan mahasiswa. Tulisan Hajar seolah memberikan solusi bahwa manusia butuh terbentur agar bisa terbentuk.

Demikian lima tulisan favorit readaksi edisi kali ini. Nantikan 15 karya yang terpilih bersama tiga edisi sebelumnya dan satu edisi lagi di minggu depan untuk periode Agustus dalam bentuk ebook di koleksi.kolong.team. Dan untuk naskah favorit pilihan redaksi yang akan mendapatkan honor kepenulisan jatuh pada naskah Demonstran “Konstruksi Media” karya Pandji dg Nakku. Kepada penulis diharapkan segera mengirim nomor rekening tujuan melalui nomor 085231268898.

Demikian untuk minggu ini. Selamat bermitra bersama kolong.team. Jangan lupa upload naskah buku dan nikmati koleksi di koleksi.kolong.team.

Tim Redaksi