Dosen Setengah Dewa

Idza qallal ma’ruf shara munkaran waidza sya’al munkaru ma’rufan.
“Apabila ma’ruf telah kurang di amalkan, maka dia menjadi munkar dan apabila munkar telah tersebar maka dia menjadi ma’ruf”
Kampus dengan label ladang pengetahuan dan kesadaran bagi setiap insan, nampaknya buyar setelah masuk dan berinteraksi dengan mahluk setengah dewa di dalamnya, dahulu kita yang mengimajinasikan kampus sebagai tempat terbaik tuk merintih benih intelektual dan khazanah kognitif, sebagai mahluk bodoh yang datang dari setiap sudut kampung di seluruh pelosok negeri.
Mula-mula penerimaan mahasiswa disambut dengan pidato dewa tertinggi, ucapan yang manis nan menghipnotis sambil mengatakan, beruntung kalian yang telah lulus, karena begitu banyak manusia yang ingin berkuliah di sini namun tak bisa.
Harapan yang pernah terpupuk tuk menjadi manusia seutuhnya nampak nihil setelah mengetahui virtualitas dari kampus. Masuk dengan berbagai lintas invite and route be autonomous (undangan dan mandiri) . Bangga rasa hati nan bahagia masuk universitas ala istana, regulasi tertata tapi tak merata.
Botak rapi gundul tak berarti, mendengar sabda sana sini. Masuk, duduk, dengar, diam, dungu. Layaknya rotasi yang setiap hari harus dijalani.
Dosen serasa dewa yang sabdanya harus ditonton dan ditaati. Ruang-ruang akademik serasa menjadi koleksi basa basi tanpa aksi. Deretan absensi dengan ketakutan kutukan nilai yang selalu menghantui.
Kritik, argumentasi, gagasan, bahkan saran akan menjadi beku tak berarti, layu, lalu mati, Innalillahi! Imajinasi dikurung, pikiran terpenjara dalam hegemoni ego Dewa. Tak pernah ada konsep perubahan yang ditawarkan, tak pernah ada konsep perlawanan dilantunkan tuk melawan regulasi yang tak sejalan, karena sejatinya mereka pemeran regulasi yang bengis.
Mulut terkunci, hati berontak, pikiran akan mencaci. Oh Dewa dalam bilik ruangan, jika hadirmu tuk membentuk kebiasaan semu, maka kau tak lain seperti mayat hidup yang disirami parfum.
Lebih parahnya lagi, dewa-dewa itu berbeda versi, ada yang banyak teori, ada yang setiap bait katanya harus dituruti, mudah tersinggung, anti sensi, menghilang tanpa bekas ketika dihubungi, banyak tugas sana sini dan ujung-ujungnya maunya cepat finalisasi.
Aku lebih baik berbuat jahat, ketimbang pikiranku membusuk, membeku, kering, lalu kerdil.
Kau tak lebih seperti Fir’aun, yang setiap bait sabda yang keluar dari bibirnya berbisa, kau tak lain seperti Hitller yang mampu membunuh jutaan manusia karena gas dan suntikannya, dan kau tak lain seperti Dewa yang harus disembah dan diagungi dari umatnya.
Tapi tidak, tidak dengan kami yang akan membunuhmu seperti lalat yang membunuh Namrud yang bengis itu, maka siapkan dirimu, teriakan kami akan menembus urat nadimu, akan mencabik ragamu, tunggulah!
Kalau sekedar mengikuti arus, maka ikan matipun bisa, harus ada perlawanan, entah itu dengan cara apa?
Sekarang kampus memperkenalkan dirinya bukan sebagai tempat debat dan polemik dihidupkan, tetapi kepatuhan dan loyalitas. Lebih mirip slogan militer, yang jelas mahasiswa harus patuh pada apa saja, aturan dosen, aturan administrasi bahkan parkir.