Khotbah ala Dongeng

Suara Adzan tersebar lewat perwakilan Tuhan, melalui bantuan alat microphone. Merdu rasanya di sebelah timur, Oh sungguh merangsang iman segera bergegas, tapi sebelah barat hancur tak berirama layaknya bayi sedang mengupas.

Jauh panggang dari api, entah ini sudah menjadi tradisi, ataukah hanya menjadi sebuah persepsi? Tapi tidak, karena apa yang terjadi, nampak bervariasi dan tak serasi. Sebahagian layaknya menatap rembulan di atas awan tak kedip bagaikan singa menatap santapan. Lain dengan sebahagiaan tunduk merunduk seakan di atas sedang menjelaskan tentang iklan yang tak kunjung terselesaikan. Tapi nyatanya itu semua tentang firman firman Tuhan sebagai bentuk peningkatan ketakwaan dan iman. Entah ini permasalahan metodenya atau memang permasalahan matanya yang kurang kerjasama, padahal demikian untuk kebaikan bersama.

Membaca tak jeda, seakan yang dibaca sebuah cerita, yang akhirnya berujung derita. Para jamaah tidur tanpa perintah dan bangun tanpa merasa bersalah karena rasanya demikian seperti dibacakan sebuah kisah. Akhirnya terbawa suasana dan si pembaca pun tetap terlena. Tidur dengan segala gaya si pembaca juga tak bisa berdaya. Mau menegur tak bisa, karena para jamaah tidur sampe ilernya tak tersisa. Di akhir doa semua mengangkat tangan seraya berdoa, tapi nyatanya mereka hanya ganti gaya.

Terharu dengan suasana pemandangan itu, semoga kedepan lahir para penuntut ilmu yang bisa berdakwah dengan berbagai metode sehingga menarik para mad’u (sasaran dakwah) tertarik mendengar dan menjadikan khutbah sebagai inspirasi serta kebutuhan.