Buru Jabatan, Lupa Daratan

Satu rasa beragam warna, satu bahasa beribu berwarna, satu kata beribu makna, satu nusa satu bangsa, satu pacar banyak derita. Hal biasa ketika mendengar manusia saling beradu otot dan otak guna memburu jabatan yang menjadi bahan untuk mendapatkan kehormatan dan kekuasaan. Saling todong keegoisan, tak pikir halal dan haram yang jelas bangku jabatan tercapai. Saling adu ketangkasan, bendera pun jadi bahan untuk memuluskan.

Ketika mencalonkan seakan-akan menjadi Tuhan, selalu menampilkan paras kecantikan dan ketampanan untuk menggaet simpatisan. Berbuat baik ke sesama seakan-akan tanpa beban, padahal demikian hanya topeng di belakang  untuk mengelabui lawan. Setiap berjalan layaknya memperhatikan keadaan, seolah dan seakan menyimpan keharuan, padahal kepalsuan yang tersistematis. Selalu banyak jalan untuk memburu jabatan, jual firman Tuhan pun akan jadi bahan manisan. Janji akan kesejahteraan tak kunjung terealisasikan, kita hanya bisa kasian akan janji janji kepalsuan yang sempat menjadi harapan. Ketika jabatan tercapai, perlahan lahan mulai lupa diri bahkan lupa Tuhan, seakan akan jabatan yang menjadi sebuah pertolongan, nyatanya bisa membinasakan karena keegoisan, lupa kawan lupa teman akan terwujud. Kecuali mereka yang selalu mengutamakan ketaatan kepada Tuhan dan jauh dari sifat ketamakan dan lebih mengedepankan kepentingan umat ketimbang pujian.