Jeritan Tak Bersuara

Roda kehidupan siap bertempur dalam setiap kedipan pantulan nada kekerasan, kebodohan, kecurangan, dan seluruh jajaran penyakit ‘K’, seolah mengintai siapapun yang menjadi penghalang baginya. Inilah kehidupan kecil jadi teman besar jadi lawan!

Campur tangan manusia tak akan ada habisnya ketika nafas masih bersemayam di dalam jasad, peperangan tak akan musnah hanya karena iming-iming dari penegak hukum. Kita adalah rakyat biasa yang hidup biasa dan ingin mati biasa, lantas yang luar biasa apakah akan mati binasa?

Rintihan gemuruh tak bernada seolah selalu berpapasan dalam langkah kita peluru seolah menjadi mainan siang dan malamnya, mata air tak hentinya mengalir di atas pipi mungilnya, goresan luka kian mengoyak tubuh kecilnya lantas inikah yang dinamakan keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan?

Peristiwa palestina tidak pernah bosan menyapa diri kita bahkan menjadi lembaran introspeksi bagi manusia yang berfikir bukan yang lupa atau berpura-pura lupa.

Miris dan nyaris inilah problematika ummat hari ini boleh jadi Indonesia salah satu korban dari maraknya intimidasi dari penjuru aspek kehidupan, masyarakat dan media tidak bisa lagi bungkam apalagi mengenai penyakit K yang sering dijumpai baik di lingkungan keluarga, masyarakat bahkan lingkungan pekerjaan, aksi nekad seolah meluap-luap dan susah dikendalikan.

Akhir-akhir ini masyarakat sering disuguhkan hidangan hangat dan gratis oleh beberapa oknum, baik secara langsung maupun perantara media, Indonesia memang cukup terkenal dengan aksi lucu yang mengundang isak tangis!

Media seolah gerak cepat dalam menayangkan berita hangat hingga siap diperbincangkan khalayak mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, Mahasiswa hingga pejabat teras. Disinilah kita bisa melihat berapa tinggi kadar kecemasan dari beberapa sampel derajat sosial dan tanpa disadari tingkat kecemasan tertinggi diperoleh oleh pejabat (wallahu a’alam).

Aksi demonstrasi bukan lagi menjadi wadah menuangkan ekspresi dalam mekanik tata tertib dan adab tapi menjadi wadah pelampiasan hawa nafsu setan. Menengok kembali kisah seorang polisi yang sedang melaksanakan tugas harus menjadi sasaran nafsu masyarakat yang kehilangan remot kontrolnya,

Bayangkan! manusia membakar manusia ini bukan hanya gila tapi benar-benar sadis! Mengapa manusia diperlakukan layaknya binatang!

Dimana sedikit rasa kasihmu sebagai seorang manusia yang punya akal, hati dan fisik yang sempurna? Setidaknya lihat keluarganya istri dan anak-anaknya dengan harapan kuat menanti kedatangan ayahnya lantas bagaimana perasaanmu ketika kerinduan terhadap ayah berujung peti mati yang datang mengobati rindu?

Semoga ada setetes darah penyesalan dalam dirimu, tak perlu kau ucapkan kata menyesal dihadapan keluarganya karena itu hanya akan mengundang seribu luka baru baginya, kau tahu bagaimana suara dan gerak- gerik anak ayam saat kehilangan induknya begitulah sedikit gambaran rasa bagi istri dan anak yang kehilangan sosok ayahnya

Ingat! Kita hidup di zaman undang-undang dan jajaran penegak hukum. Aparat penegak hukum diciptakan untuk melindungi masyarakat bukan masyarakat yang justru melukai penegak hukum.

Cinta diciptakan untuk saling mengerti dan menjaga, meskipun cinta tidak harus saling memiliki (bersatu) tapi yakinlah cinta pasti akan saling menjaga meski berbeda jarak begitulah cinta aparat penegak hukum terhadap masyarakat, jangan pernah berfikir bahwa larangan dan aksi ketat yang disajikan pihak kepolisian dan penegak hukum lainnya adalah bentuk perlawanan apalagi ada kemarahan yang berujung anarkis hanya karena surat kendaraan anda yang tidak lengkap hingga membuat anda marah pada pihak kepolisian, Jadi lucukan…

Budayakan bicara dari hati ke hati agar hidup jauh lebih tenang, semua masalah punya obat bagi manusia yang menggunakan akal dan perasaannya.

Hidup harus diatur dan mengatur karena kita hidup di sebuah negara berlandaskan pancasila yang siap dipimpin dan memimpin, jangan tertipu dengan nafsu belakang yang akan menjerumuskan pada kesesatan, banyak yang ingin berkoar tapi tak mampu banyak yang ingin hidup tapi tak ada waktu dan banyak yang berduit tapi lupa akan segalanya, jika ingin hidup dalam kenyamanan cukup dengan modal bersikaplah sebagaimana anda ingin diperlalukan.

20 Agustus 2019