Manusia di Ambang Kesadaran

“Keras kepala!”

Rey pergi membawa sulut amarahnya yang sangat ingin ia gembar-gemborkan. Bagaimana tidak? Ia terlanjur jatuh cinta pada seorang perempuan aktivis HAM yang bernama Lila. Cinta yang membawanya pada ketakutan-ketakutan apabila suatu saat nanti terjadi sesuatu pada kekasih hatinya.

***

Selasa siang, sinar terik sigap menyengat kulit yang mungkin hanya Lila menyukai berada diantara itu. Wajah anggun serta kulit yang dulunya kuning langsat kini menjadi tampak gelap, kusam sebab aktifitas favoritnya. Tak peduli seberapa sering hubungan cinta sejak 5 tahun lalu mereka jaga terkadang mengeluarkan air mata, kadang terucap lelah. Namun, sejatinya hanya pundak Lila yang mampu memberi kedamaian dan hanya senyum Lila yang sanggup menentramkan hati. Selain pernah mencoba untuk mendua, hanya sembilu yang tertancap tajam di hati Rey ketika tahu Lila telah mengetahui perlakuannya, perempuan itu menangis sejadi-jadinya tanpa berucap kata menutup pintu kamar. Hampir lima bulan pula Lila memilih menutup diri dari segala hal yang terkait kekasihnya. Tetap dengan bahu tegap berorasi tentang keadilan HAM meski yang meliputnya adalah Rey. Hati perempuan itu benar-benar menjadi lemah dan hancur seketika bersama tangis yang pecah. Rey adalah cinta pertamanya, mereka menghabiskan waktu panjang untuk sebuah perselingkuhan. Rey menjadi mahasiswa akademis dengan gelar cum laude dan menolak beasiswa S2 hanya untuk menjaga Lila dari aktifitas yang ia tolak, untuk membantu Lila segera menyandang gelar sarjana “Masuk kampus negeri itu susah, ngapain buru-buru keluar? Yang lain aja ngantri.” Begitu tanggapan santai Lila, dan Rey paham bagaimana watak Lila yang teguh sama seperti cinta yang ia teguhkan untuk dirinya.

Lila sendiri pernah berucap pada Rey sewaktu mereka masih menjadi maba, perasaanku mungkin akan seperti ini, merasa tergesa-gesa, semangat berlari, tertawa, berbahagia dan mungkin perasaan kita akan mendapati titik jenuh, ada banyak tanjakan dan turunan, kerikil tajam, curam dan seolah aku akan terjatuh di dalamnya dan di saat seperti itu, jangan pernah lepaskan genggamanmu, tetaplah bertahan seburuk apapun keadaannya.

Seolah diuji oleh Tuhan perkataannya, sahabat karibnya ternyata mencintai Rey. Anggun namanya, dengan tanpa merasa bersalah ia mengajak Lila berbincang di cafe dekat kampus.

“Sudah lama aku mendambakan kejadian-kejadian seperti malam itu bersama Rey, aku mencintainya.”

Bagaikan oksigen hanya sampai pada batang tenggorokan saja, Lila menarik napas panjang menyaksikan sahabatnya menangis “Aku tidak bisa memutuskan apa-apa, kau kenal aku, Rey memintaku untuk menjalin hubungan dan hanya dia yang bisa memutuskannya.” Kemudian ia pergi, membuang pikiran-pikiran kusut perihal rasa. “Manusia-manusia lain lebih penting ku pikirkan ketimbang mereka berdua.”

Saat Anggun mengemis agar Rey memutuskan hubungan dengan Lila. Lila tidak mencintaimu, dia memintaku agar kamu memutuskan hubunganmu dengannya. Saat itu pula Rey sadar betapa kokoh cinta dari Lila untuknya. “Anggun aku minta maaf” ucapnya tulus menatap mata Anggun yang penuh harap “Aku mencintai Lila, kamu tahu itu.”

Ia buru-buru pergi mengambil jaket serta kunci motor di atas meja, menuju kost Lila. Beruntung kali itu Lila sedang berbaik hati membuka pintu untuk menerimanya. Dalam hati Lila, ia siap pergi berlibur beberapa hari atau beberapa bulan atau tidak akan kembali ke kota itu jika Rey memutuskan hubungan mereka. “Maaf sayang, maaf.” Rey memeluk kekasihnya dengan kuat, tangisnya pecah tak terbendung menyesali kebodohannya. Mereka sama-sama menumpahkan kesedihan dan berbagi rindu.

***

“Harus gimana lagi aku nasehatin kamu kalau itu berbahaya? Itu pekerjaan cowok! Hubungan kita pernah jadi korban gara-gara kamu keras kepala!.”

“Karna hubungan kita pernah jadi korban dengan cara kamu selingkuh, aku sekarang paham kamu bakal ulangin lagi dan akan seperti itu seterusnya. Kecuali kamu benar-benar jatuh hati dengan wanita lain, di saat itu juga aku pasti berhenti cinta sama kamu.”

“Dan mencari penggantiku?”

“Nggak!, biar kamu makin tersiksa karna saat itu aku nggak akan pernah terima kamu.”

“Sampai kapan kamu kekeh dan nggak mau dengerin aku?.”

“Sampai aku selesai kuliah, kita nikah dan punya anak, aku akan mengajari mereka menjadi aktivis kemanusiaan lalu menunggu cerita cerita selepas mereka beraktivitas.”

Tiba pada saat hari yang ditakutkan oleh Rey membuatnya terbangun dari kegelisahan. Rey yang saat itu ada urusan usaha di Malang harus segera pulang ke Jakarta untuk melindungi Lila, terjadi konflik kericuhan di beberapa titik daerah di Indonesia dan ia menyaksikan di televisi kekasihnya menjadi jendral lapangan. Water canon yang diarahkan untuk membubarkan massa membuat Rey berhenti menyaksikan televisi dan mematikan handphone untuk tidak melihat perkembangan selanjutnya. Dalam hati, ia terus berdoa Lila tetap berada di lindungan-Nya.

Mahasiswa yang terus mengumandangkan keadilan HAM di hari kamis depan istana negara mengisahkan kepelikan, ketegangan antara mahasiswa dan aparat keamanan. Tradisi ini sudah ada sejak masa orde baru. Kemarahan seorang kader terpancing hingga menyiram bensin ke anggota kepolisian yang sedang bertugas hingga terbakar hidup-hidup.

Lila terperanjat segera membuka almamater yang dikenakan dan membantu memadamkan api dengan cara apapun itu. Ia benar-benar shock, para pejuang yang dinamakan aktivis HAM malah merusak hakikat itu sendiri, memperkosa kesucian yang disandang. Keberaniannya merosot jauh seketika. Saya ingin melindungi semua orang, tidak peduli dia baik atau buruk, berkawan atau lawan, tapi HAM milik bersama, demonstrasi hanya akan berimbas pada kericuhan tanpa mempertahankan sisi kemanusiaan jika kedua belah pihak masing-masing mempertahankan ego, antara kedua belah pihak sama sama menjadi korban kerugian elite pemerintah. Lila mengundurkan diri dari tugasnya.

“Kamu baik baik aja?.”

Rey meneliti dari ujung kaki ke ujung rambut, kali ini ia bisa menarik nafas lega.

“Aku berhenti Rey, semua udah di luar batas, polisi yang dibakar tadi adalah bentuk demonstrasi di mana semua pihak adalah sama, sama-sama membunuh dirinya sendiri.”

“Nggak usah berhenti!”

Lila tercengang mendengarnya, bukankah tiap hari yang menjadi pembahasan yang membosankan itu adalah aku berhenti?.

“Kamu bisa tuangkan semua apa yang kamu rasain melalui tulisan, sama yang seperti aku lakukan. Di balik ini semua, aku dukung kamu, pintarnya aku ngelakuin itu melalui tulisan nggak kayak kamu yang ngeyel.”

Lila tertawa receh kemudian menatap kembali kekasihnya.

“Sekarang kamu bisa download aplikasi kolong.team, tulis apapun itu yang kamu mau lalu upload, di aplikasi ini juga banyak bacaan menarik dan cocok buat semua kalangan, termasuk cewek keras kepala kayak kamu.”

“Pacarku ternyata jago marketing.” Mereka larut dalam canda dan tawa, kembali menemui dan menyatukan arah untuk selanjutnya, berjanji untuk menyudahi keangkuhan dan saling belajar menerima masukan.