Demonstrasi: Antara Anarkisme dan Maslahat

Mendengar kata demonstrasi di benakku, di benak anda maupun orang-orang di luar sana pasti memeliki perspektif yang berbeda. Dulu sewaktu belum mengkaji islam, saya memandang bahwa demonstrasi itu sebuah bentuk protes yang dilakukan oleh mahasiswa (dulu selalu melihat di tv bahkan di jalan raya) terhadap kebijakan pihak akademis yang tak sesuai maupun terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil terhadap masyarakat.

Hal yang dilakukan pun di antaranya berorasi dan membakar ban di tengah jalan maupun di lingkungan kampus dan bahkan sampai bentrok dengan para aparat. Pikirku beginikah mental mahasiswa? Inikah hasil didikan dari sebuah kampus? Haruskah memprotes dengan cara itu hingga mencoreng nama kampus? Dan toh ujung-ujungnya bermasalah bahkan dikeluarkan dari kampus dan berurusan dengan pihak berwajib pada akhirnya.

Namun seiring berjalan waktu setelah mengkaji islam perlahan-lahan di salah satu organisasi islam, saya pun ikut terlibat dalam setiap aksi yang tak lain melakukan kritikan terhadap pemerintah. Aksi yang tak lain adalah demonstrasi sekumpulan umat yang melayangkan protes serta kritikan terhadap pemerintah, namun bedanya adalah aksi tersebut tidak ada unsur anarkisme seprti apa yang pernah saya lihat dan bahkan hal itu masih sering terlihat sampai saat ini.

Demonstrasi atau dalam bahasa arab disebut muzhaharah secara bahasa dalam kamus Al Muhith disebutkan bermakna zhuhur (nampak ), menampakkan, memperjelas dan ta’awun (saling tolong menolong). Dalam Mu’jam Al Wasith, muzhaharah bermakna mengumumkan pendapat secara berjamaah (bersama-sama). Dari makna secara bahasa terkumpul 2 sifat yaitu zhuhur (nampak) dan ta’awun (saling tolong menolong), tentu keduanya merupakan sifat yang terpuji sebagaimana disyariatkannya berdakwah untuk menghilangkan kezhaliman dan menuntut adanya keadilan.

Keadilan merupakan fitrah yang diinginkan setiap manusia. Jika tujuan demonstrasi adalah mencapai keadilan, dan demi tegaknya amar ma’ruf nahi munkar di tengah manusia, maka jelaslah kebolehan demonstrasi. Bahkan jika tujuan tegaknya keadilan membutuhkan aksi demontrasi, maka menjadi wajib hukumnya mengambil sarana ini.

Namun bagaimana jika demonstrasi yang diharapkan menghasilkan sebuah maslahat namun berujung anarkisme? Sebagaimana hal tersebut terlihat saat aksi yang dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa di salah satu universitas di Cirebon. Demonstrasi tersebut kemudian menjadi kasus kriminal karena menyebabkan terbakarnya beberapa orang aparat.

Terkejutkah? Miriskah? inikah gambaran yang katakan agent of the change itu? Hayy bro kritik dan apatis terhadap kebijakan yang tidak adil caranya bukan seprti itu, kita punya aturan main di dalam islam bukan serampangan bahkan hampir menghilangkan nyawa orang lain. 

Islam membolehkan demonstrasi sebagai bentuk kritikan atas kezaliman penguasa dengan  tujuan satu, untuk mencapai kemaslahatan agar terciptanya keadilan. 

Hal ini pula pernah dilakukan oleh para shahabat Rasulullah saw yang sering mengkritik para Khalifah secara terbuka. Diriwayatkan dari ‘Ikrimah ra, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra telah membakar kaum zindiq. Berita ini sampai kepada Ibnu Abbas ra, maka berkatalah Ibnu Abbas ra :

لو كنت أنا لم أحرقهم، لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تعذِّبوا بعذاب الله. ولقتلتهم، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: من بدَّل دينه فاقتلوه

”Kalau aku, niscaya tidak akan membakar mereka karena Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah bersabda, ”Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api),” dan niscaya aku akan membunuh mereka karena sabda Rasulullah saw, ’Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR Bukhari no 6524). 

Hadits ini jelas menunjukkan Ibnu Abbas telah mengkritik Khalifah Ali bin Abi Thalib secara terbuka di muka umum. (Ziyad Ghazzal, Masyru’ Qanun Wasa’il Al I’lam fi Al Daulah Al Islamiyah, hlm.25).

Karenanya demonstrasi yang bersifat anarkisme sangat tidak dibenarkan dalam islam apalagi dengan sengaja ingin menghilangkan nyawa orang lain. Sebab hal itu pula bertentangan dengan HAM dan hukum yang berlaku di negeri ini. Sementara demonstrasi untuk mencapai kemaslahatan yang dibenarkan di dalam islam adalah ketika menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar dalam melakukan perubahan terhadap kezaliman penguasa. Serta tidak melanggarnya syariat islam serta undang-undang yang berlaku. 

Sebagaimana hadis riwayat Abu Said al-Khudri. Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِر

“Jihad yang paling besar pahalanya itu sungguh perkataan yang haq yang mengena untuk pemimpin yang zalim”. (HR at-Tirmidzi).

Wallahu A’lam

Kendari, 19 Agustus 2019

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]