Memaknai Kemerdekaan bukan Sekadar Simbolik

Rekaman panjang atas jejak sejarah menjadi bukti nyata, bahwa Indonesia telah melewati ambang suka dan duka menuju negara dengan masyarakat madani, adil makmur. Para founding father kita banyak mengorbankan segala aspek atas pencapaian ini.

Ada banyak distorsi sejarah yang masih belum terpublikasi perihal menuju kemerdekaan. Seperti dinamika perumusan proklamasi, prosesi menuju pembacaan dan sebagainya. Ini menjadi refleksi nasionalis, apalagi di usia yang sudah hampir menyentuh 1 abad, 74 tahun bukan usia yang muda lagi. Tentu saja banyak pelajaran, serta cerminan dahulu yang bisa kita petik dan rekonstruksi kembali hari ini. Jika konteks perayaan kemerdekaan hari ini hanya dimaknai sebatas acara seremonial (simbolik), maka kita masih belum sepenuhnya dikatakan berjiwa nasionalisme yang kompleks. Pengejawantahan atas semangat para pahlawan tidak berhenti pada hari ini (tahunan) akan tetapi, implementasi kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari yang berkembang sesuai dengan denyut nadi peradaban, menuju perubahan yang dinamis itulah yang sebenarnya merdeka sehemat pengetahuan saya. Lebih peka terhadap keadaan sosial, kondisi rakyat dan negara hari ini yang carut-marut serta perlahan bergeser atas nilai moralitas. Dapat melihat beberapa elemen dari masyarakat merasakan keadilan maka itulah makna kemerdekaan yang hakiki bersama.

Mari merdeka secara kolektif bukan individualistik.