Tak Ada Pink di Atas Ungu (2/Habis)

Kali ini aku kembali mengingat dia yang telah membawa harapanku pada puncak langit lalu dengan senyumannya, menghempaskanku begitu saja. Hey, bukankah saat itu senja benar-benar indah? Kenapa kau tega membunuh karakter senja dalam hidupku dengan menciptakan peristiwa seperti ini tatkala senja telah menampakkan rona terindah dari yang ia miliki. Tak apalah mungkin saat itu kau sedang khilaf. Tapi imbas dari semua ini adalah aku membenci senja karenanya. Lalu kau datang mengajakku melihat bintang terbesar di dunia ini kembali keperaduannya. Sulit rasanya mengikuti kemauanmu untuk melihat senja, aku benar-benar muak melihat senja ia hanya akan mengingatkanku kenangan kelam. Tapi, kau dengan penuh perhatian mencoba meyakinkanku agar berdamai dengan masa lalu itu. Di bawah langit senja, kau belai rambutku lembut. Sangat lembut. Sambil berbisik “Seberapa besar kebencianmu pada senja? Apa yang kau benci dari goresan cahaya di sudutnya? Adakah sinarnya merobek lukamu yang hingga kini tak pernah benar-benar “sembuh”? Sudahlah, aku hanya ingin mengajarimu agar melihatnya indah.”

Aku tak menyangka akan dikirimkan malaikat berwujud manusia, kau bahkan terlalu baik untuk menjadi kekasihku. Kau berani berjanji untuk menjagaku selamanya. Awalnya aku kurang percaya dengan semua janjimu itu, maklum aku masih takut untuk percaya kembali dengan cinta. Tapi, kau justru menguatkan janjimu itu dengan satu kalimat, laki-laki sejati takkan pernah ingkar janji.

Apa kau tahu? Terkadang aku berpikir untuk menjauh darimu. Aku takut akan selalu merepotkanmu dengan semua permintaanku. Bagiku semua permintaanku itu akan menyita kebebasanmu. Bukankah setiap anak lelaki ingin kebebasan? Dan aku tak ingin merepotkanmu. Tapi, sekali lagi kau tepis risauku dengan kalimatmu ketika aku dihantui rasa bersalah karena merepotkanmu, Jangan lagi berpikir kehadiranmu merepotkanku itu salah justru ketiadaanmulah yang merepotkanku. Aku adalah manusia yang tak kaya harta tapi kaya impian. Di antara impian-impian itu adalah menikahimu. Telah kusimpan impian itu dalam sumsum tulangku agar jika ada yang ingin menghapusnya ia sulit mendapatkannya kalaupun ia mendapatkannya ia harus berhadapan dengan tembok kuat yang dibuat oleh Maha Kuasa untuk manusia dalam dirinya.

Bagaimanalah aku tak terikat akan pesonamu itu? Kau percikkan air surga ketika di kerongkonganku tertancap sebilah pedang. Dan kini kau bagaikan cahaya dalam gelapku. Dalam gelap aku berusaha menemukan cahayamu itu, karena aku yakin sekecil apapun cahaya yang kau titipkan jika dalam gelap ia akan tetap bercahaya. Bahkan ialah bintang  yang bersinar terang. Kau bisa saja tak percaya, tapi ini cinta bukan cerita.

Dan kali ini di bawah kolong langit yang sama. Desahan nafasku diam-diam menjadi molekul yang sama dengan nafasmu yang mengambang di udara. Rumput ilalang mungkin cemburu melihat kita, tapi abaikanlah, toh ada desiran angin yang mencoba membelainya lembut. Selembut yang ia bisa. Dan untuk kesekiankalinya, masih di bawah kolong langit yang sama. Sepasang anak cucu Adam menatap atap langit yang menjulang tinggi tanpa tiang. Menitipkan harapan kecilnya pada burung-burung surga. Menitipkannya pada hembusan angin berharap harapan itu menembus benteng yang berdiri megah. Aku dengan short dress pink kesukaanku. Dia dengan kaos ungunya. Aku pun berbisik padanya, “Takkan ada pink di atas ungu jika kita tidak saling mencintai”. Sejenak ia hanya diam lalu tersenyum getir. Pandangannya lurus menatapi ilalang yang juga bersorak ramai menuntut agar diberi senyuman indah. Aku heran dengan tingkahnya, apa yang salah dari ucapanku. Bola mataku kini bagaikan serpihan kaca menunjukkan fase paling dramatik dari indahnya sebuah pandangan. “Kau juga tak menyukaiku? Sudahlah aku rela kalau kau memilih yang lain”. Ingin kutumpahkan tangisku namun urung, karena tangannya buru-buru menyeka kedua ujung mataku. “Kau menyuruhku mencari yang lain? Ah, untuk apa? Ini seperti filosofi Plato pada muridnya. Untuk apa mencari bunga lain kalau telah kutemukan bunga terbaik untukku. Kau harus tahu satu hal, ku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu, takkan kubiarkan pink di atas ungu itu memudar.

***

Aku hanya berharap cinta itu selalu indah seperti caramu menatapku dengan binar mata paling indah. Sama seperti kepak sayap burung yang mencumbui langit tanpa rasa takut pada petir yang kapan pun dapat menjadikannya tiada. Seperti cinta embun kepada matahari, ia rela ditelan cahayanya kala fajar menyingsing hari. Dan seperti embun yang membiarkan matahari meremas dirinya hingga meleleh untuk membasahi rerumputan. Membasahi tanah. Atau cinta itu bukanlah apa-apa, hanya menjadi sebuah kesanggupan menerima takdirnya.