Tak Ada Pink di Atas Ungu (1)

Dalam ruang jiwa kurasakan panah asmara telah membuatku terluka, mengeluh, merintih, dan menahan perih serta pedih yang terus menindih. Bahkan berkecamuk tak henti-henti hingga aku pun tersuruk di kedalaman yang pekak. Aku merangkak menyusuri jalan berduri. Aku berteriak hingga suaraku sengak. Aku menangis sampai air mataku habis. Aku terkikis dalam waktu yang kian menipis. Lalu aku tertegun melihat nasibku. Jiwa menjadi jelaga yang membumbung ke angkasa bersama rindu yang mengalun. Kuhujamkan batu nan runcing melumat jantung hingga terburai dan dengan sayap kecil yang mengembang, aku terbang dalam kehampaan, semilir yang terurai.

Adalah cinta ketika kau hidup. Karena hidup adalah salah satu wujud dari cinta itu sendiri. Ketika kau hidup berarti kau punya cinta. Yah, kau punya cinta untuk kau hidupi. Tak peduli seperti apa caramu merangkainya menjadi sempurna, menjadi hikayat cinta yang abadi sepanjang sejarah cinta, atau kau ingin mengalahkan perjuangan Adam dan Hawa? Terpisahkan sangat jauh namun bertemu karena satu rindu, satu cinta. Semuanya sama saja bukan? Selalu ada perjuangan yang memeluk cinta itu. Entah siapa yang memeluk cintamu. Hanya ada dua pilihan. Malaikat. Iblis.

Nafas pun terasa sesak. Ah, itu perasaan yang harus dibayar mati atas sebuah keserakahan yang dilumuri oleh cinta. Serendah itukah pemberianmu untuk sebuah rasa yang datang dari dasar hatimu. Rasa yang tidak seharusnya berubah menjadi momok paling menjijikkan dalam fase ini. Ah, tingkahmu benar-benar menggelikan membuat desiran darah itu seolah tak pernah ada. Seperti ini yang kau katakan mengabadikan wajahku sebagai wajah terindah untukmu? Yah, aku memang wajah terindah untukmu. Wajah terindah untuk kau jadikan mainanmu. Layaknya anak kecil yang bersorak ramai menerima mobil-mobilan baru atau bahkan seperti anak kecil yang bersenandung penuh gurau tatkala mendapatkan setoples kelereng.

Dan kini tiba saatnya kau datang berlutut meminta maaf, meminta kepercayaanku lagi. Hey? Kau tidak sedang berada dalam layar lebar. Hentikan tingkah laku seperti itu. Kau tak ubahnya pembohong yang meminta maaf pada batu. Izinkan aku untuk membuatmu percaya bahwa cinta itulah hidup. Lihatlah apa yang kau rasakan ketika usahamu untuk menyusun kembali kepingan hatiku namun tetap saja rapuh. Masihkah kau temukan kebahagiaan di dalamnya? Terserah seperti apa jawabanmu atas pertanyaanku ini yang harus kau tahu adalah cinta itu hidup. Kau tidak bisa mematikannya begitu saja, sama seperti kau berusaha mengenyahkan aku dalam hidupmu.

Dengarlah, semua orang punya masa lalunya masing-masing. Ketika kau mencoba untuk meredam semua ingatan masa lalumu, secepat itu pula kenanganmu akan memutarkannya bagai kaset rusak yang terulang-ulang, tidak jelas. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari melupakan semua kenangan seperti itu? Apakah semua itu demi seseorang yang kini ada di masa mu? Agar ia percaya bahwa hanya dia yang ada dalam hidupmu. Tidak! Kau tak akan pernah bisa melakukannya. Masa lalu itu bagian dari hidupmu. Jika ia benar-benar menginginkanmu, ia akan menerima kenanganmu karena dari masa lalu itu kau bisa seperti ini. Kesalahan di masa lalumu membuatmu mengerti akan hidup.

Dan ketika udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Petir datang menyapaku dengan keputusanmu untuk meninggalkanku. Ah, kenangan itu terlalu indah untuk ingin kau tebus dengan meminta kembali kepercayaanku akan satu titik di dasar hatimu. Kau harus belajar menghargai cinta yang pernah dititipkan Tuhan untukmu. Kau di mana saat aku meneteskan bulir air mata ini? Kenapa kau tak datang mendekapku lalu menenangkanku dengan genggamanmu.

Bersama cerita masa lalu yang selalu ingin kutepiskan. Kau selalu hadir mencoba meyakinkanku untuk percaya pada kenangan itu. Di bawah temaram bulan, menikmati keindahan candi yang tegak mencakar langit. Ah, pengalaman yang hanya bisa kutulis dalam selebaran kertas. Urung menyodorkannya untukmu. Tulisan itu hanya ketika aku percaya padamu. Ingin melumatnya sampai habis, tapi apa itu membantuku untuk melupakanmu? Yang ada aku justru semakin bergulat dengan hatiku sendiri dan yang menang tentu saja egoku. Aku tetap tak bisa merajut kembali semua kenangan tentang kita. Aku memang bisa tersenyum untukmu, tapi untuk tersenyum saat menjadi pendampingmu sulit. Sudahlah, biarkan aku mengenangmu dengan caraku sendiri.

Aku rela kekasihku dicintai, tapi aku tak rela kekasihku mencintai yang lain. Harta dan kekayaan tak ada padaku tapi, cinta dan kejujuran itulah yang kumiliki. Cinta yang datang kan kujemput namun cinta yang pergi tak akan ku antar. Kalimat yang indah, terkesan mendalam dan mampu meresonansi hati yang terpikat akan kalimatnya. Dan aku adalah hati yang terpaut oleh semua pesonamu. Akulah yang selalu menyerukan namamu di setiap desahan doaku pada Tuhan. Tapi semua itu hanya masa lalu. Andai saja saat itu ragaku masih ada dalam nanar matamu, mungkin tak kau tinggalkanku hanya dengan siluet tubuhmu. Ah, sejak kapan matahari tak lagi menghangatkan? Mungkin ketika kau hapus ragaku dalam hidupmu. Dan kini lihatlah, jiwaku yang remuk. Aku yang berusaha merajut hidup tapi apa dayaku? Kau hanya bisa meludahi cinta yang kuberikan. Aibkah aku untukmu? Ah, sejak kapan matahari tak lagi menghangatkan? Matahari pun tak sanggup menghangatkanku. Cahayanya sudah cukup untuk menikamku.

Dan titik jenuh itu kini bersarang dalam benakku, dalam keheningan pagi aku menangis merintih. Inilah air mata kebekuan hatiku. Penantianku hanya mendatangkan derita batin yang tak berkesudahan. Aku harus hidup kembali menjadi orang yang bermanfaat, meski abu sekali pun. Tak kuning oleh kunyit, tak hitam oleh arang.

Aku kembali hidup. Hidup karena cinta yang kembali dititipkan untukku. Kuharap insan kali ini tidak meremukkan perasaanku lagi. Aku tak muluk-muluk dengan kehadirannya. Karena dia telah merengkuh hidupku dengan memberikan hidup yang baru.

Bayangan dengan wajah yang menenangkan kini berhenti menyapaku. Matanya yang meneduhkan pun turut membiaskan cahayanya tepat di bola mataku.Serta senyuman yang penuh inspirasi, selalu hadir di setiap langkahku. Ia benar-benar membuatku lupa akan carut marut dunia ini. Saat itu aku percaya malaikat berwujud manusia benar adanya. Yah, siapa lagi jika bukan dirinya.

Adalah kekuatan ketika aku mampu mencintaimu dengan caraku sendiri. Terkadang ketika menemukan warna kesukaanmu di sampul buku harianku. Ungu. Aku terisak penuh tangis, kenapa kita tidak dipertemukan lebih awal lagi. Agar hatiku tidak terjamah orang lain lebih dulu meskipun kau tak pernah menjadikan hal ini alasan untuk berhenti merajut kasih denganku. Kuharap setiap kau melihat warna kesukaanku kau akan berjanji selalu membahagiakan pemilik maniak warna ini, merah muda. Ah, takkan ada pink di atas ungu, jika kita tidak saling mencintai.

(Bersambung)

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]