Merdeka (?)

Anggap saja ini gurauan gadis kecil yang sedang patah hati…
**

Berkaca pada sejarah kelam yang terlalu dini untuk dilupa. Seolah lagu ciptaan Ismail Marzuki perihal kegundahan Ibu Pertiwi adalah ramalan. “Intanmu pun dikenang.”

Benarkah Indonesia sudah merdeka?
Merdeka dalam perspektif pikiran, sudahkah? Lupakah kita bagaimana penjajah rakus masuk bersama tawaran bijaknya tapi niat mengadu domba?

Lupakah kita tragedi romusha, kerja rodi, bayar pajak, hasil tanah di rampas kemudian menyusul kisah G30S, biadab bukan? Lalu dengan enteng kau pura-pura tuli fokus pada layar porno dan game di tanganmu.

Benarkah, kita merdeka dengan sebilah bambu runcing? Ataukah ada perjanjian cantik yang menarik hati para bankir dunia untuk memerdekakan, kemudian menyebabkan kita berhutang?

Maka, sungguh keterlaluan jika memprotes Jokowi sebagai biang-kerok bengkaknya hutang di rezim ini. Namun terlalu keenakan jika hutang menumpuk, aset BUMN terjual dan tergadai tanpa adanya transparansi pada rakyat, membiarkan rakyat terombang-ambing dengan opini masing-masing.

Benarkah kita telah menerima pancasila sebagai ideologi?
Sedangkan simpang-siur khilafah dan komunis makin kerap dikumandangkan akan adanya mereka di negeri ini, menjadi persepsi abu-abu. Amnesia, bahwa Indonesia menolak komunis dengan umat muslim sebagai mayoritas, bukan khilafah!

Para kacuping-kacuping seumuran saya kini merangkak keluar dari ketek sang ibu. Di sodomi otaknya oleh ideologi senior, paham tak paham urusan belakangan, “yang penting punya aliran.”
Berkata agama namun bermaksiat
Berbicara Marxisme namun sembahyang.
Meninggalkan semua ocehan tidak penting, mari beralih pada pertanyaan.
Benarkah, 17 Agustus 1945 adalah kemerdekaan Indonesia yang satu nusa satu bangsa?