Manifestasi Kopi Dalam Kemerdekaan

Kopi adalah sebuah minuman yang mampu mewakili kesempurnaan dunia. Ia memiliki ciri dan sifat pahit namun memiliki kenikmatan tersendiri bagi pecintanya. Bahkan ada pameo yang mengatakan bahwa “Kalau tidak pahit, bukan kopi namanya”.

Kesempurnaan dunia bukan berarti segalanya menjadi indah, manis, elok, dan semacamnya. Akan tetapi, kesempurnaan adalah adanya perpaduan antara pahit (derita) dan manis (nikmat/bahagia). Apalagi yang bisa menggambarkannya selain kopi?

Menyoal secangkir kopi, ada sebuah tulisan dengan judul Secangkir Kopi Pahit Kemerdekaan oleh Nurhalimah Ahmad. Secangkir kopi yang ia suguhkan dianalogikan sebagai bentuk kemerdekaan. “Kemerdekaan yang Pahit” katanya. Seharusnya tidak ada lagi rasa pahit kalau sudah merdeka. Sehingga penambahan “gula” yang diharapkan menggantikan pahit itu, wajib menurutnya.

Menganggap penulis ini bukan pecinta kopi sepertinya tidak berlebihan. Kalau tidak mau pahit, yah jangan minum kopi! “Gitu aja kok repot” kata Gusdur. Sejurus dengan itu, ada lagi penulis Hamsina Halisi Alfatih dengan judul Hakikat dari Sebuah Kemerdekaan. Ketidakpuasan mereka terhadap kemerdekaan mengundang mereka berkicau tentang perubahan (amandemen) aturan dan hukum kenegaraan. Saya sampai syok dan bertanya dalam hati “Apa jadinya jika 10 pemuda yang diminta Soekarno untuk mengguncang dunia berpikiran seperti itu? Apakah kemah-kemah pramuka dan kegiatan 17-an bisa seperti sekarang?”

Saya khawatir tulisan-tulisan tersebut lahir dari pemikiran prematur. Seperti buah yang dipaksa matang, ada rasa yang hilang (kurang). Mereka seolah belum memahami bahwa awal perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi dengan tokoh-tokoh ulama. Kehadiran ulama tetap punya peran penting dalam proses menuju merdeka. K.H. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah pernah berpesan bahwa setiap manusia tidak hanya memiliki tanggung jawab kepada Tuhannya, tapi juga ke sesama manusia.

Tanggung jawab ke sesama manusia mencakup toleransi beragama dalam menghargai kepercayaan yang dianut rakyat Indonesia. Tidak elok kiranya memaksakan hukum syariah kepada rakyat nonmuslim. Begitu juga sebaliknya. Khalifah Umar Bin Khattab adalah sahabat nabi yang sangat keras tabiatnya. Namun nabi menaklukkannya bukan dengan paksaan, melainkan sikap penuh kasih.

Hakikat kemerdekaan yang diimpikan sebagian orang dengan aliran tertentu mungkin membutuhkan susu, madu, atau gula sebagai kesempurnaan hidup di bawah bayang-bayang euphoria teriakan Merdeka… Merdeka… Merdeka… Padahal sempurna bukan sesuatu yang monoton, tunggal, atau semacamnya. Biarlah kopi pahit kemerdekaan tetap menjadi kopi yang pahit. Kita hanya perlu menemukan kenikmatan di dalamnya.

Indonesia bukanlah negara sempurna. Kita yang membuatnya sempurna. Ada petikan menarik dari sebuah film berjudul Apollo 13. Misi pesawat mendarat di bulan gagal akibat adanya ledakan dalam pesawat. Tangki penyuplai oksigen, listrik dan air tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dilaporkan kru pesawat ke bumi “Kita sedang ada masalah”. Namun dengan tenang dan tidak panik, mereka ditanya “Peralatan apa yang masih bekerja secara optimal?”. Melalui kerja sama antara tim teknisi di bumi dan astronot di luar angkasa, teknisi membuat sebuah prototype yang bisa dibuat berdasarkan ketersediaan alat yang disebutkan oleh astronot untuk memanfaatkan semua yang bisa digunakan dalam misi menyelamatkan mereka, akhirnya kru pesawat berhasil pulang dan mendarat di Samudra Pasifik secara dramatis.

Memandang merdeka, ada baiknya menggunakan pertanyaan tersebut sebagai solusi dari carut marut bangsa. Tidak perlu banyak. Cukup satu ide positif yang konkret.