Secangkir Kopi Pahit Kemerdekaan

17 Agustus 1945 adalah hari diproklamirkannya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Sebuah momentum yang secara de facto Indonesia lahir sebagai negara yang berdaulat, bebas dari penjajahan. Sekaligus momentum yang tentunya bersejarah bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu setiap tahun di tanggal dan di bulan yang sama, momentum itu selalu diperingati sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia.

Berbagai atribut berupa bendera, serta berbagai macam pernak-pernik lainnya selalu menghiasi sepanjang sisi jalan bak ritual tertentu untuk menyambut hari kemerdekaan. Berbagai jenis perlombaan akan terasa seru mengisi kemerdekaan walau hanya sebatas berlomba menghabiskan kerupuk. Bahkan pasukan pengibar bendera tidak pernah absen untuk mengibarkan sang pusaka merah putih di hari kemerdekaan. Yah sebab hari kemerdekaan begitu sakral bagi bangsa Indonesia.

Namun lagi dan lagi kita hanya dipaksa untuk tersenyum dan bergembira menyambut kemerdekaan. Pasalnya kita lagi-lagi disuguhi secangkir kopi pahit kemerdekaan.

Alih-alih merdeka, bangsa ini justru terkekang sebab dikuasai oleh para asing-aseng yang bersembunyi di balik wajah investasi bertopengkan demokrasi. Mereka yang dengan begitu mudahnya memperoleh izin untuk menanamkan modal, sedangkan pribumi dipersulit. Hingga berujung pada eksploitasi sumber daya alam dan amputasi sumber daya manusia lokal/pribumi. Belum lagi proyek OBOR yang mengimpor bahan baku dari luar, menyaingi proyek PT. Freeport yang belum usai. Sungguh miris negeri ini.

Namun bukan hanya sampai di situ. Anak bangsa juga disuguhi dengan lilitan utang yang tiada terhitung lagi jumlahnya, belum lagi bunganya. Angka anak putus sekolah semakin hari tiada terbendung. Angka kriminalitas, seks bebas, narkoba bukan lagi hitungan jari. Hak bersuara untuk menyuarakan kebenaran dibungkam dimana-mana, suara mahasiswa dibisukan, ulama banyak dipersekusi, puncaknya ajaran agama mulai didiskriminasi serta diradikalisasi.

Sungguh pahit terasa kemerdekaan ini. Katanya merdeka, namun hakikatnya jauh dari kata merdeka. Lantas kemana kemerdekaan itu? Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para punggawa kemerdekaan 74 tahun lalu hanya sebatas kenangan tak bersisa, yang ada hanya ampas pekat oleh para pecandu demokrasi.

Jika demikian, apa kita hanya terus diam? Atau bahkan kita juga ikut menikmati secangkir kopi pahit itu dan pura-pura tersenyum bahagia? Tidak! Kita harus membenahinya. Mungkin kita perlu menambahkan banyak gula.

Tapi kita harus tahu dulu mana gula yang cocok untuk secangkir kopi pahit itu agar terasa manis tak bersisa. Gula yang cocok bukanlah gula hasil buatan manusia, apalagi buatan manusia ingkar yang berlabel kapitalis-sekuler. Sebab hanya akan menambah pahitnya kopi. Oleh karena itu kita butuh gula yang berasal dari pencipta langsung, yang karenanya secangkir kopi pahit itu akan terasa manis untuk disuguhkan di hari kemerdekaan.

Itulah kemerdekaan hakiki yakni bebas dari segala macam bentuk penjajahan, eksploitasi, dan segala bentuk kezaliman lainnya. Kemerdekaan itu hanya diperoleh dengan menjalankan hukum yang berasal dari pencipta yakni Allah swt bukan berhukum dengan hukum buatan manusia layaknya kapitalisme-sekularisme apalagi sampai sosialisme-komunisme.

Allahu Akbar! Merdeka!

Wallahu a’lam..