Kisah Kita dan Paradundungang

Meraba kisah belajar pada luka lama yang pernah koyak. Mencoba membuka lembaran kisah beralur tragis berujung senyuman. Siapa yang tidak mengenal sosok kisahku yang begitu menggetarkan penduduk dunia? Sudahlah! biarkan kisah ini menjadi saksi bahwa aku pernah membersamaimu saat itu. Hari paling besejarah bagi rakyat, hari di mana suara bersatu rasa menyatu dan kebahagian melebur. Semarak pesta penyambutannya begitu berkobar laksana panglima perang. Mulai dari ujung kota hingga pelosok desa seolah bergirang menyambut kedatangannya.

“Mak pergiki besok nah kelapangan ?” “Pergi apa sedeng ?”

“Mdd mama.. pergi liat pabarrisi mak.”

“Iya pale kulupaki itu kau eh, sampaikan sama bapakmu padeng pasang itu umbu’-umbulu’ nah.”

“Iye mak.”

Tradisi masyaratakat sebelum penyambutannya biasanya diawali dengan pemasangan bandera dan umbu’-umbulu’ dalam istilah masyarakat Gowa atau dalam bahasa latin disebut (Bendera dan umbul-umbul) yang dipasang disetiap halaman depan rumah. Hal ini ditujukan dan dilambangkan sebagai salah satu wujud penghargaan kepada pahlawan dan pengingat akan sejarah masa lampau yang sangat mengoyak hati. Hari pemasangan ini biasanya dilakukan satu minggu sebelum peringatan 17 Agustus 1945.

“Wih Masyaa Allah cantik tawwa umbu’-umbulu’nya anu baru pasti?”

“Iye Alhamdulillah, karena tua sekalimi itu yang dulu tidak bagusmi diliat.”

“Iye bah kayak umbu’-umbulu’nya daeng anu toh warna coklatmi kodi-kodina (jelek) tidak mau tong naganti, haha”.

” Ih janganki tawwa begitu mungkin tidak ada uangnya kodong.”

“Khm…tidak kutaumi itu iya.”

“Kita iya sudahmi dipasang umbu’-umbulu’ta ?”

” Edede tidak mau jaka saya biar kupasang tidak naliatji orang tidak lewat depan rumahji pabarrisi (barisan) di belakangji juga rumahku.”

“Janganki begitu…pasangki juga karena ini memperingati jasa para pahlawan satu kali satu tahun deng.”

“Kitami saja deng perwakilan!”

Fenomena ini sering sekali ditemui dalam masyarakat khusususnya daerah perkampungan yang masih awam. Pemasangan bandera dan umbu’-umbulu’ (Bendera dan umbul-umbul) bukan hanya menjadi simbol wujud memperingati akan hari besar tapi kadang dijadikan sebagai ajang pamer dalam status sosial lingkungan masyarakat. Semakin indah dan baru bendera itu semakin terhormat pula citra dirinya dalam masyarakat dan jika sebaliknya bersiaplah menjadi tema ocehan edisi kali ini. Padahal hari itu bukanlah ajang pamer melainkan wujud penilaian terhadap diri sendiri seberapa tinggi kadar cinta kita kepada perjuangan pahlawan sehingga kita bisa merasakan wujud nyaman hari ini, bukan wujud kesombongan di atas pengorbanan orang lain. Namun sayang hanya sebagian kecil yang paham akan hal ini.

Salah satu persaksian nenek yang bernama Lia Daeng Kebo di daerah Gowa pernah bercerita bahwa kala itu usianya masih kanak-kanak dan peristiwa tempo Balanda (masa Belanda) mulai menghiasi kota Makassar khususnya kab. Gowa. Konon katanya ketika masyarakat mendengar suara kappala’ (helikopter) maka disitulah masyarakat mulai gentar ketakutan dan berlari kesana kemari menuju sebuah titik persembunyian yang disebut dengan nama paradundungang (lubang perlindungan) karena takut adanya pelemparan bom secara mendadak yang akan merenggut nyawanya.

Lubang tersebut memiliki luas yang cukup besar di mana lubang tersebut bisa dihuni sekitar 10 orang atau lebih. Tempat itu juga dihiasi lampu yang disebut dengan nama lampu kanjoli’ (lampu minyak). Paradundungang ini juga bukan hanya dijadikan tempat berlindung, tapi juga sebagai tempat melanjutkan pekerjaan mulai dari kreasi tenun dan menganyam. Paradundungang ini juga dilengkapi dengan alas tappere’ (tikar) dan tuka’ kayu (tangga kayu) serta penutup dari paradundungang ini dilapisi kayu layaknya pintu kemudian diberi alas pelepah daun dan terakhir dilapisi tanah agar persembunyian ini tidak menimbulkan kecurigaan bagi sang musuh.

” Waktu-waktu kapan biasanya itu Nek datang Balanda di kampungta?”

“Kadang itu sore Nak, kalau adami itu suara kappala’na (helikopter) dari atas lari maki semua ke paradundungang kamalla-mallaki (takut) nataba bong (terkena bom).”

“Deh subhanallah… Begitu pale perjuangan dulu dik. Tapi tidak sesak nafas jaki itu di bawah paradundungang Nek?”

“Alhamdulillah tidak tongji ia Nak karena luasji juga baru adaji juga makanan disimpan di situ, kadang kalau lewatmi di atas paradundungan itu Balandaya, dumba-dumbaki juga. Dan kalau amanmi nakasi’ maki kode ketua paradundungang baru paki itu keluar”.

Bersyukurlah kita hari ini tidak lagi merasakan getaran ketakutan mati di tangan musuh bersenjata layaknya yang dirasakan nenek Lia dan para pejuang kemerdekaan khususnya. Hari ini kita hanya menjadi penikmat layaknya makanan siap saji dari grab food. Kita tidak perlu lagi ke pasar dan ke dapur, kita hanya duduk manis dan menikmati makanan tersebut. Itulah analogi kemerdekaan kita hari ini. Lantas mengapa menunjukkan identitas kesyukuran kita dengan mengibarkan bendera merah putih saja kita enggan? Lalu bagaimana bisa kita dikatakan manusia yang memiliki cinta? Mungkin betul cinta terhadap bangsa tidak dapat diukur hanya karena mengibarkan bendera, tapi bukankah hakikat cinta dibuktikan dengan adanya pertemuan dan lama kelamaan akan tumbuh rasa kasih sayang hingga menimbulkan benih rindu yang dibuktikan melalui pengorbanan? Jangan menjadi masyarakat yang buta akan identitas negara sendiri. Bersyukurlah saat anak pramuka dan seluruh aspek masyarakat menyambut riang hari kemerdekaan. Bila perlu, jadilah bagian darinya. Jika hal kecil saja kita acuh apalagi ikut pertempuran di medan perang. Bila kenikmatan hari ini saja kita sulit mensyukurinya jangan harap ada pengorbanan diantara kita terhadap bangsa Indonesia. Ketika semangatmu mulai goyah tunduklah sejenak pada sang Ilahi, biarkan dia yang berbisik padamu bahwa kisah kita masih hidup di atas tanah .

Wallahu a’alam.

14 Agustus 2019