Melati

Datanglah seorang gadis belia anggun menatap wajahku sesekali dia melempar senyum, ada yang disampaikan lewat senyuman itu adalah perasaan, perempuan ibarat daun yang mesti berguguran di tengah gurun tandus yang mesti diperhatikan dan dijaga dengan baik, kadang ia gelisah dan butuh pundak untuk bersandar.

Cinta itu diibaratkan cita-cita, ada capaian yang harus digapai dengan konsentrasi antar kedua belah pihak, tanpa konsisten ia tidak akan menggapai cita-cita itu.

Saya merasakan ini saat berada di bangku sekolah menengah pertama dimana cinta hadir lewat tatapan pertama, kami yang lahir di tahun 90 sangat merasakan keharmonisan yang hakiki, kami diajarkan bagaimana saling menghargai satu sama lainnya dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Perbedaan yang lahir di tahun 2000an kami melihat ketidakpantasan seorang siswa siwsi ketika menggunakan arti cinta, jurus yang digunakan mereka adalah keberanian lalu memanfaatkan situasi, kadang mereka terlihat di pojok-pojok kemudian saling mengotori dirinya.

Di masaku belum ada jurus pojok-pojokan, kami beradaptasi lewat surat, dalam sehari itu kami harus menyewa kurir atau sahabat untuk mengirim surat cinta, ongkosnya pun masih murah hanya berkisar 3000 sampai 5000 rupiah, gadis itu tinggal di sebelah desaku jadi dibutuhkan kurir, istilahnya uang capek.

Sejak berumur enam tahun saya berada di desa terpencil yang belum mengenali teknologi, saat pagi tiba kami bersiap-siap untuk menepakkan kaki ke sekolah sebelum meninggalkan rumah saya membuat surat dan isinya wajib dua paragraf dalam surat itu saya menuliskan salah satunya “kusayangki itu nah jangan memangki kecewakanka, kalau pulang sekolah saya tungguki di depan sekolah, mauka liat muka ta kangenka kurasa”, bahasa style ini dari suku makassar yang artinya saya sangat menyayangimu jadi tolong jangan kecewakan perasaanku sepulang sekolah saya tunggu kamu di depan sekolah, pengen rasanya ketemu dan melihat wajahmu.

Gadis itu sangat menyukaiku dia menilai bukan dari wajah tapi sejauh mana saya mampu membuat dia merasa nyaman di pundak ku, dia pernah berkata lewat selembaran kertas yang dibalut dengan amplop buatannya bahwa dia tulus menerima aku apa adanya.

Selama kami berbalas surat belum pernah tertulis maupun terucap kata-kata cinta, hanya ada kata “suka” dan itupun lewat kurir, di kala itu saya duduk di bangku kelas II madrasah tsanawiyah dan Melati (si gadis) itu duduk di bangku kelas III dengan sekolah berbeda tidak jauh dari sekolahku, kami biasa bertemu saat kurir sudah dibayar lunas, jadi dia penentu, selama ini saya menggunakan jasanya dengan membayar separuh dari uang jajan di sekolah, kadang saya bayar hanya 1500 rupiah dalam sehari yang seharusnya 3000 rupiah seperti kesepakatan kami berdua.

Selama itu berjalan dengan manis dan harmonis meski lewat surat tapi bagi kami di masa itu sengguh luar biasa karena berani menaklukan hati seorang perempuan kalau istilahnya sekarang merubah status jomblo. Suatu kali saya tegang dan sedikit malu dan terkadang senyum-senyum sendiri, orang berada di sampingku sering melirik mungkin di benaknya saya sudah tidak normal lagi.

Berselang beberapa saat kemudian kami beranjak dewasa dan sudah memasuki bangku sekolah menengah atas, kami mulai terombang ambing manis sudah menjadi pahit kalau istilahnya milenial nasi sudah menjadi bubur.

Hanya selang beberapa bulan masuk pada tahun ajaran pertama saya berpindah sekolah dari desa ke kota hingga berkuliah komunikasi terputus, masing-masing sibuk urus karir, saya dengar kabar terakhir bahwa Melati sudah dipinang oleh orang lain.

Cinta yang tertipu dari ketajaman retorika membuat saya harus bangkit meski cintaku disobek-sobek dengan prosa, setidaknya saya mengerti ketulusan yang berakhir di negeri dongeng, di tahun 90an.

Saya merasakan cinta milenial hanya sekedar imijinasi, saat dia amnesia semuanya akan hilang, beda halnya cinta milenium yang terbuat dari narasi film Saras 008 hingga kini film itu masih memikat hati saya hingga akhir hayat.