Mengurai yang Tak Usai

Tepat hari ini,
Sumpah setia tegaskan komitmen
Sumpah serapah dijauh-jauhkan

Ucapan sakral itu,
;hanya sekali namun mengetuk ratusan telinga hadirin.
Sumbang tapi dinantikan

Tepat hari ini,
Puluhan kendaraan pengantar bersuka cita
Kemudian berdebar seketika
Mengingatkan perjalanan penuh asa
Suka duka cita selalu datang bersama

Tepat hari ini,
Diantaranya enggan melewati jalan berlumpur
Memilih pulang sebelum berbaur
Mengingatkan ruang hidup tak selalu akur
Kadang lumpur harus dihiraukan agar cinta punya alur.

Pula hari itu,
Sepasang kaki berusaha menopang
Agar senyuman tak dinilai angka
Sepasang kekasih saling menopang
Agar bahagia tak berubah murka

Setelah hari itu,
Tak ada yang usai dan tak kan pernah usai
Sekali mendayung biarlah semuanya menjadi saksi
Bahwa hidup ini bukan sekedar hati-hati
Tapi perlu bagi-bagi

Hari ini,
Empat tahun yang tak berkesudahan
Sepasang kekasih masih belajar empat elemen keseimbangan
Kadang mereka berani seperti api
Kadang mereka optimis seperti udara
Kadang mereka tenang seperti air
Kadang mereka berkorban seperti tanah.

Tapi
Kadang juga, tak mau menjadi apa-apa.
Lalu, ingin apa saja.
Hingga, bingung mau bagaimana
Dan, menuntut apa adanya
Setelahnya, syukur pun terucap, semuanya berlalu dengan ucapan
; ada-ada saja.

Suara sumbang, suka duka cita, lumpur kehidupan, tak kan usai.
Tentunya, sepasang kekasih makin bisa mengurai.

2 Agustus 2019