Mayapada Sarjana dan Manipulasi Intelektual

“Gelar sarjana memperpanjang nama dan disemat padanya. Mayapada (dunia) baru menjadi sarjana yang telah menyelesaikan status pelajar paripurna, ikut menambah amanah sebagai agunan moral terhadap pribadi dan masyarakat.”

Gelar sarjana bukan sekadar gelar untuk memanjangkan nama di bagian terakhir ataupun singkatan untuk mengumumkan bahwa ia seseorang ahli dalam bidang tersebut. Ternyata maknanya melebih dari itu. Di gelar yang proses pencapaian akhirnya bagai mendaki bukit terjal, justru penyematan itu lebih besar, bukan mendaki gunung lagi, tapi menjunjung seberat bebatuan. Dalam gelar tersebut, bukan hanya beban moral, namun intelektualitas.

Perbedaan zaman tentu memengaruhi kondisi personal dan sosialitas. Yang dirasakan cuma ada dua zaman, zaman lampau dan zaman sekarang. Zaman lampau, kita bisa menengok Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Soebarjo, mereka adalah tokoh kemerdekaan bangsa. Selain mereka punya intelektualitas yang tinggi, tetapi juga mereka dibebani tanggung jawab moral untuk memerdekakan bangsa. Dan itu semua karena sarjana yang emban.

Lantas berbicara zaman kita ini, di mana ratusan ribu mahasiswa berjibaku untuk mendapatkan gelar sarjana secepatnya guna menyelesaikan tanggungjawab dari orang tua. Kita hanya berpikir dengan waktu yang cepat dapat gelar sarjana lalu bekerja di perusahaan bonafit atau top birokrat di negeri ini yang menjanjikan kemapanan dan kenyamanan di puluhan tahun mendatang.

Soekarno yang setelah menamatkan diri dari ITB Bandung, ditawari menjadi pegawai pemerintahan belanda dan dijanjikan jabatan yang tinggi dengan gaji yang besar pada masa itu. Tapi Soekarno menolak, dengan dalih; lebih baik menjadi musuh utama penjajah dan dipenjara di Penjara Suka Miskin untuk mempejuangkan kemerdekaan bangsanya, daripada harus mengkhianati rakyatnya sendiri. Pilihan yang berbeda dari sarjana pribumi di masa itu.

Saat ini biang ambiguitas melanda semester akhir di kampus-kampus saat ini yang telah dan akan mendapat gelar sarjana. Gelar yang diimpikan para mahasiswa yang hari ini masih berjibaku untuk mendapatkannya. Lalu apakah banyak di antara kita yang pernah memikirkan arti sebuah tanggung jawab dari gela tersebut karena tidak semua orang dapat memilikinya?

Betapa anggun dan tampan yang menjadi wibawa saat toga terpasung di kepala, terlebih merasakan tali toga yang digeser oleh rektor. Pada doa-doa yang berkepanjangan menyapuh diri untuk kesuksesan.

Realita proses sarjana

Jangankan memikirkan apa yang hendak dilakukan para sarjanawan ke depan, memprihatinkan kondisi mahasiswa calon sarjanapun, menjadi kebobrokan tunas-tunas bangsa adalah keperihan sejarah. Yakinlah bahwa tak ada manusia luar biasa yang mencapai kesuksesannya dengan cara yang biasa-biasa saja.

Untuk meraih sarjanapun, mahasiswa tak kuasa melawan godaan untuk berbuat curang. Budaya copy paste yang siapa ingin munafik berkata tak melakukan barang secuil pun. Sehingga, kebobrokan ujian mencapai gelar tersebut dinikmati secara foya-foya. Tak lagi memeras otak dengan segala sumber teknologi dan fasilitas tak muluk di dapatkan. Maka, wajar ketika tak ada lagi sosok Soekarno dengan juangnya melawan dan manjadi tokoh kemerdekaan.

Apalagi yang dirasa sulit bagi mahasiswa sekarang. Teknologi telah diperbudak untuk manipulasi intelektual. Berarti proses itu, kita telah mengakui sebagai sarjana yang kemahasiswaannya adalah rekayasa. Wajar ketika para pengangguran bertebar di mana-mana.

Lihatlah. Masih ada sisa-sisa orang yang berada zaman perlawanan, paling tidak, para penyaksi sejarah. Para orang tua, kakek-nenek. Tentu mereka membanggakan anak cucunya sebagai seorang intelektual. Menjadi agen of change untuk masyarakat. Yang nyata-nyata penjajahan menyelubung dan merampas keindonesiaan. Dan itu dinantinya yang tak kunjung ia lihat. Mereka mengira tangan-tangan dan jiwa-jiwa Soekarno ia akan lihat pada sarjana-sarjana.

Minimal ada dua permasalahan mendasar pendidikan kita, yaitu Pendidikan Spiritual dan Pengangguran Terdidik. Pendidikan spiritual permasalahannya adalah tidak seimbangnya antara porsi pendidikan spiritual dengan pendidikan intelektual dan mental. Akibatnya bisa kita lihat dengan semakin mengakar dan mendaunnya budaya korupsi, manipulasi, monopoli, oligopoli, kolusi dan segala macam kejahatan birokrasi dinegeri ini. Bahkan nyaris para pelakukanya adalah sarjana hukum. Para sajarjana hukum dengan kebobrokan panipulasi intelektual untuk gelar sarjana, maka manipulasi yang fatal akan menjadi kerusakan besar bernama korupsi.

Mencegah hasil manipulasi intektual

Memang tidak ada jaminan bahwa berkembangnya kepribadian seseorang menjadi sarjana akan paralel dengan perkembangan kepribadian dan tingkat moralnya. Tidak ada jaminan bahwa membengkaknya jumlah sarjana berarti semakin terawat dan eksis pula nilai kebenaran dalam kehidupan masyarakat.

Menjawab ironisme tersebut diperlukan langkah sistematik dan konsisten dengan melakukan reorientasi sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang akan dikembangkan harus mampu mewadahi tiga dimensi dasar kehidupan mahasiswa, yaitu dimensi ruhiyah (moralitas/spiritualitas/agama), dimensi fikriyah (intelektualitas) dan dimensi mental untuk dapat dimanage secara proporsional dan seimbang, demi lahirnya sarjana multidimensional.