Gelisah dari Timur

Pemilu 2019 masih menyimpan bekas cuitan anak bangsa, yang seakan menjadi saksi ketidak adilan negeri ini.

Bangsa ini, sepertinya telah berada di pangkuan kaum materialisme, memposisikan sesama anak bangsa yang tidak sehaluan sebagai lawan . Anak bangsa yang dulunya satu nusa satu bangsa, beribu pulau sambung menyambung jadi satu, kini tercerai berai dengan identitas komunitas masing-masing.

Saya yang berasal dari Timur Bangsa ini bersuara menyampaikan kegelisahan atas bara sisa-sisa pemilu. Meskipun ada narasi yang telah usai, namun bukan berarti perang antara pendukung pun usai.

Buktinya, adu argumen antara kampret dan cebong masih menjadi trending topik. Serta yang membuat kita miris adalah lahirnya islamphobia.

Ketika Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam membuat peraturan untuk melegalkan poligami, lalu dibuatlah opini yang menyudutkan umat muslim di sana. Terjadilah pro dan kontra tanpa mengetahui dalil poligami. Juga pernah bendera yang melambangkan Panji Rasulullah dibakar oleh oknum. Tentu, kegelisahan ini hanya untuk mengingatkan catatan kelam anak bangsa, bukan untuk menguliti luka lama.

Nah, mahasiswa yang merupakan kaum intelektual seharusnya berdiri di depan menyuarakan perlawanan setiap terjadi peristiwa itu, tapi kaum terpelajar kita saat ini seolah tidur nyenyak dipangkuan kaum materilisme ini.

Belum lagi kegaduhan dalam bernegara sudah visual, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Ulama fasik tiba-tiba mengeluarkan fatwa haram terhadap poeple of power yang dianggap akan membuat kerusuhan pada 22 Mei, demonstrasi penolakan atas keputusan KPU yang dimenangkan oleh petahana.

Demokrasi ini yang menguras emosional dan tenaga. Tapi, jangan sampai menguras cintamu. Cinta kepada negeri!