Kata yang Nakal

Aku selalu yakin, bahwa kau seperti malam yang merayap pelan pada sunyi. Terlebih ketika kau memilih untuk diam lalu menghanyutkan kebenaran dalam samudra kebimbangan. Membiarkannya terombang-ambing lalu bercampur dengan kesalahan.

Dan, aku selalu saja berusaha mencari kebenaran atas pilihanku sendiri. Meski kau telah tahu, jikalau pilihanku adalah sebuah pembenaran di antara tumpukan kesalahan yang telah kau samarkan.

Aku selalu dihantui, jangan-jangan diriku telah menjadi siang. Memberikan cerah, hingga mampu melihat kebenaran dan kesalahan secara kasat. Lalu kemudian menghakimi kesalahan dengan dalil kebenaran.


Hinga akhirnya, kutakut, orang-orang akan menyebut mulutku sebagai jelmaan para dewa yang terlupakan. Harus dihargai sebagai pembawa pesan.

Aku takut. Sangat takut! Sebab, kau telah menggunakan mulutku sebagai kendaraan tercepat untuk mengantarmu ke gerbang kebenaran, sementara kau selalu datang dengan raut berwajah dua, bahkan lebih.

Namun, aku berterima kasih. Sebab, kau telah menyadarkanku bahwa kebenaran dan kesalahan terkadang datang bersamaan bersama dirimu dengan senyum nakal.

Bukan silih berganti.

Duhai, kata yang nakal! Sudahlah!

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]