Celana Ayah

Aku akan memberi tahumu rahasia penting. Kuharap kau tidak membocorkannya pada siapapun. Ternyata, ayahku penculik.


“Kata Bu Lisa, kau tidak pergi mengaji. Bahkan dua hari kemarin juga katanya tidak,” tatapan ibu menyelidik ke kedua tanganku di belakang.
“Aku ketiduran, Bu.”
Ibu mendehem pelan dan menangkap tanganku yang gemetar.
“Kau takut?” ibu berhasil menangkap benda rahasia di tanganku. “Kau salah dengan buku ini?”
Aku berusaha menyembunyikan roman wajahku yang seperti mulai memerah karena panik. Di dalamnya ada penjejakan peristiwa-peristiwa barbar, tanggapan para guru, dan juga pelajaran mencintai dari ibu.
Tidak ada yang kucintai selain ibu, meski sebetulnya aku telah melukainya. Bahkan aku tidak sanggup menyembunyikan perasaan, bendungan di mataku sudah meluap sejadi-jadinya. Di daster ibu, air mataku menitik begitu mendekapnya.
Ibu tampak semringah menatap wajahku yang masih menyembunyikan sesuatu. Aku semakin yakin, perlahan ibu bisa menerima kehilangan ayah. Betapapun aku selalu berlagak dewasa, ibu tentu tidak menerima percepatan watakku. Ayah, ayah. Anak, ya, anak. Tak bisa ditimbal balik.
Orang-orang menyebutku bocah, tak terkecuali ibu. Sayang, kelakukanku tidak seperti bocah kebanyakan yang sepulang sekolah mencari teman lalu bermain di halaman Balai Desa. Tapi tidak denganku. Belakangan ibu memang selalu menanyakan kenapa aku menyendiri dan tak jarang menolak ajakan anak perempuan Nona Shai bermain. Kalau bukan menyelesaikan teki-teki silang di koran, pasti aku sedang membuntuti sesuatu. Mencari tahu, apakah perempuan yang ayah panggil mama di balik telpon adalah ibu ayah? Tapi jelas aku belum pikun, Nenek Rohani, ibu ayah, tahun lalu sudah meninggal. Memangnya ayah punya berapa ibu?
Wajahku mulai segar. Lalu aku merebut pelan buku rahasia di tangan ibu. Bagaimana pun, untungnya karena ibu tidak tidak bisa membaca. Tapi ibu tetap pintar. Darinya aku tahu bagaimana mencintai perempuan. Tapi aku masih bingung, kenapa mencintai ibu dengan cara menyakitinya?
Dunia memang terbalik. Bukan ayah yang mencari nafkah, tapi ibu. Tangan ibu semakin kasar dan urat-uratnya menonjol. Sedangkan ayah, selalu bilang akan memperoleh uang dengan cara apapun. Hanya aku yang tahu kalau ayah itu jago judi. Sekali waktu, ayah dan tiga temannya harus tidur di dalam sel penjara. Tiga bulan lamanya. Jelas aku tahu semua kelakuan bejat itu. Kata Bu Lisa, cita-citaku jadi intel saja.
Sore hari sepulang mengaji, ayah memintaku menemaninya pergi. Aku senang karena selalu bisa makan nasi kuning di warung pojok Mbak Asih. Dan rupanya di tempat perjudian itu, aku hanya diminta menjaga motor yang di parkir di bibir gang. Kabarnya, bila sore, rawan pencurian motor, begal apalagi.
Sudah kukatakan pada ayah, tubuhku memang kecil tapi aku terlampau dewasa. Di sekolah, aku sering bertanya kepada guru tentang kelakuan ayah yang selalu mabuk tiba di rumah. Hal sama juga kutanyakan pada guru mengaji. Aku tidak tahu, siapa sebenarnya yang salah, saya ataukah ibu yang telah mengajariku mencintainya? Katanya, cinta adalah perjuangan, dan perjuangan butuh pengorbanan. Dengan begitu, kalimat ibu membantu keyakinanku bahwa yang kuperbuat adalah benar, aku telah membunuh ayah.
Hari masih fajar, kami melewati gang yang gelap. Aku masih tertidur di atas motor dan sesekali membelalak. Mau ke mana ayah membawaku? Tempat itu bukan stan perjudian ayah, aku hafal betul. Aku tidak pernah melewati gang itu, apalagi kami singgah di depan rumah kecil. Ayah menyeretku masuk.
“Untuk apa kita ke sini, Ayah?”
Ayah tidak menggubris. Aku menahan langkah. Di hutan belukar yang asing itu, membuatku ketakutakan dan berteriak sangat kencang.
“Masuk, kau!” ayah telah menyakitiku. Di pergelangan tangaku muncul darah. Ayah selalu lupa memotong kuku. Oh, iya, kukunya pasti sengaja dipakai melukaiku.
Di dalam rumah tua yang senyap itu, seng karatan berjatuhan, sampai mengenai kakiku. Ruangan yang sangat gelap. Tak ada yang dapat kulihat kecuali tajamnya bola mata ayah yang semakin mendekat.
“Anak kecil, sebelum aku masuk penjara untuk kesekilan kalinya, kau yang harus ditahan dulu,” ayah membekap mulutku.
“Apa salahku, Ayah?”
“Orang-orang tahu kalau aku kembali berjudi dan bermain perempuan lain.”
“Aku tidak pernah mengatakan itu, Ayah.”
“Tapi lewat kau curhat dengan guru mengajimu itu, kau tidak sadar kalau anak Pak Lurah mendengarnya diam-diam. Orang-orang tahu. Memangnya tahu apa kau sampai mengurusi ayahmu ini? Dasar, anak durhaka!” tangan ayah lalu mencekik leherku. Suaraku tertahan dan garau.
“Ampun, ayah. Tolong…tolong…” aku yakin teriakanku menembus pintu rumah kecil ini. Tapi kata ayah, percuma. Di luar tidak ada siapapun, kecuali ular bandotan puspa, sekali mendekat, bisa mematikan. Anjing gila juga banyak. Suaranya mulai bersahut-sahutan.
Ayah memang tidak seperti ibu yang mengusap air mataku, ia justru mengeluarkannya saat telapak tangannya mendarat di pipiku. Aku menjerit dan dadaku mendidih. Apa yang bisa kulakukan? Ayah tega sekali. Tiba-tiba, ada suara di ruangan itu juga. Mirip percakapan beberapa perempuan. Ayah melangkah ke suara yang berdesas-desus itu. Aku hendak ikut, tapi ayah mencegahku.
“Diam di tempat,” tegas ayah sambil membuka celananya dan meletakkannya begitu saja di lantai. Itu celana kesayangan ayah, tepatnya, satu-satunya celana panjang yang dimilikinya. Celana kain hitam yang bau amis, juga kotor.
O, ya, terima kasih, ayah. Ayah telah membantuku menjawab teka teki di buku rahasiaku. Dan sayang, ayah terlalu kasar memperlihatkan perilaku orang dewasa yang melanggar, persis seperti binatang yang menaiki tubuh kawan satu sama lain. Kata ibu, binatang tidak punya akal. Bersyukur menjadi manusia dengan banyak akal. Salah satunya mengakali celana ayah.
Keempat perempuan yang sedang berbaring itu, terkejut melihat leher ayah telah kuikat erat dengan celananya dari belakang. Nyata begini luka ibu. Kurasa ayah telah gagal menculikku. Tubuhnya sudah terkapar setelah sebilah pisau pemberian perempuan di antaranya tertancap mantap di dadanya, aku membatin: Yang ini namanya hati, Ayah. Tapi ayah tidak menggunakannya. Gantian ayah yang setengah meringis. Apakah ayah mati atau tidak, setidaknya aku telah menunaikan ajaran cinta dari ibu. Pinjam celana ayah dulu, ya.
Aku buru-buru meninggalkan tempat itu. Kembali ke rumah tanpa ayah, tapi mengenakan celana ayah yang luruh di pinggangku. Cepat-cepat kukait dengan tali kendit. Berhasil.
“Ibu, aku akan menjadi ayah yang baik.” Ibu hanya bergidik melihat tingkahku.
Perkataan yang sama selalu kuulangi tatkala ibu menunggu ayah pulang, meski tak kunjung datang.

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]