Sisa Pilu Pemilu

Pantulan nada kecurangan seolah mengalahkan suara mesin perahu. Aksi menebar hoax semakin menjadi-jadi, kejahatan semakin merajalela. Bahkan, siap dipertontankan di muka umum. Pasca reformasi tahun 2004, baru kali ini pemilu sangat riuh dengan virus kecurangan. Demokrasi yang menjadi identitas hasil perjuangan reformasi mendadak mati, lebih tepatnya dimatikan. Oleh siapa ?, hanya penguasa yang bisa melakukannya.

Saat ini ulama dikejar-kejar, pers dibungkam, mahasiswa dibuat diam dan tak berkutik, semua aparat, birokrasi dan institusi negara dikendalikan, boleh jadi ini trik khusus untuk memperpanjang kekuasaan. Rakyat hanya bisa marah dalam ocehan singkat yang tak pernah tersampaikan. Pemilu 2019, seolah bermain terlalu anarkis hingga penonton berlinang airmata.Bukan tanpa sebab, tapi terlalu banyak sebab yang mulai terang-terangan terdengar dikuping rakyat hingga sulit untuk disembunyikan lagi.

Kekhawatiran semakin menghantui rakyat, dengan maraknya berita gerakan people power yang konon katanya, akan lebih sadis dari kejadian Orde Baru yang menelan 7 nyawa. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab ketika berita ini sudah terlanjur menghantui rakyat, apatah lagi rakyat yang hanya bisa menopang dagu tanpa tahu cara bertindak. Miris sekali sistem demokrasi Negara ini, hal yang bersifat kenegaraan saja mulai tertindas kecurangan, Bahkan, menggemparkan dunia sebelum tiba pengumuman resmi sang pemimpin selanjutnya. Media seolah kehilangan jati dirinya sebagai salah satu penebar informasi aktual dan terpercaya rakyat, hanya karena satu kecurangan yang saat ini masih buta akan tersangka. Rakyat bingung mana berita yang benar dan mana berita palsu, lagi-lagi rakyat yang harus memikul beban, menyaring berita sendiri yang masih berampaskan ketidakpastian.

Peristiwa yang sedang berlangsung saat ini bisa terjadi akibat dari benih yang induk tabur sendiri, jadi, jangan heran ketika anak sudah menikmati helai daun yang sudah menguning dan mulai berguguran mengenai tubuhnya. Bagaimana tidak, pola berpolitik penguasa selama ini yang menghalalkan segala cara, mengintimidasi semua langkah yang tidak sejalan dengannya, membuat banyak rakyat bungkam, kaku, dengan kebenaran dan rela tunduk akan kebohongan, karena ia sangat takut terperangkap dalam jeruji besi yang sebenarya bukanlah tempatnya.

Saat ini diam adalah cara rakyat untuk tetap bermukim di tanah Indonesia, meskipun tanpa wawancara bisa terlihat jelas dari raut wajah yang seolah muak dengan tingkah pola kekuasaan yang klimaksnya adalah pemilu yang masif kecurangan. Apakah kita akan menikmati sajian pemilu dengan rasa ini ataukah bertindak dua langkah dari yang biasanya, berharap masih ada tetesan sikap patriotisme yang mengalir dalam darah hingga kita sadar bahwa diam bukanlah sebuah solusi tapi sebuah jalan menuju ajal. Rakyat bukan orang yang bodoh tapi ketika kecurangan tidak hentinya berkipra di negeri ini maka yakin dan percaya kecurangan akan berakibat pembodohan dini bagi rakyat. Tidak ada yang bisa bertindak lebih jauh ketika hukum saja mulai berani ditelikung oknum pejabat teras. Entahlah siapa yang benar saat ini, hanya dia, penguasa dan penciptalah yang tahu wallahu a’alam bishawab. Kumohon jangan biarkan pesta demokasi telanjang di depan mata, melampaui batas pertahanan psikologi rakyat!.